Kamis, 15 Juli 2010

Gerakan 30 september/ PKI

pemberontakan G 30 S/PKI

1. kegiatan PKI sebelum G 30 S/ PKI

Pengaruh PKI sangat besar dalam pemerintahan, karena PKI termasuk “ empat partai besar” hasil pemilihan umum tahun 1955. keempat partai besar itu berturut-turut adalah PNI, Masyumi, NU, dan PKI. PKI berysaha meningkatkan kegiatannya untuk mewujudkan cita-cita membentuk pemerintahan komunis di Indonesia.

Usaha-usaha PKI adalah sebagai berikut:

· Dalam bidang pemerintahan beberapa tokoh PKI duduk sebagai menteri seperti DN. Aidit, MH. Lukman, dan Nyoto.

· Karena pengaruh PKI, politik luar negeri Indonesia semakin cenderung bekerja sama dengan Negara-negara sosialis, seperti RRC dan Uni Sovyet.

· Pada tanggal 22 sampai 25 maret 1963 diselenggarakan Konferensi nasional I Lembaga Sastra Indonesia di Medan. Konferensi tersebut merupakan kampanye budaya PKI

· Di bandara bbetsi, Sumatra utara, terjadi peristiwa Bandar betsi. Pada tanggal 14 mei 1965, barisan tani Indonesia (BTI), pemuda rakyat (PR), dan gerakan wanita Indonesia (Gerwani) menanami secara liar tanah Negara di perkebunan karet Bandar betsi. Pelda Sudjono memperingatkan massa agar menghentikan penanaman itu. Akhirnya pelda Sudjono dikeroyok dan dianiaya hingga tewas.

· Pada tahun 1965 PKI berusaha keras agar kaum buruh dan tani dipersenjatai, tetapi ditentang keras oleh TNI-AD

· PKI menagdakan latihan kemiliteran bagi anggota-anggota ormasnya, yakni pemuda rakyat dan gerwani di daerah lubang buaya Jakarta.

2. pemberontakan G 30 S/PKI

Setelah PKI merasa cukup kuat, mereka menyebarkan fitnah bahwa kesehatan presiden Soekarno sedang gawat. PKI juga memfitnah adanya Dewan Jendral yang akan merebut kekuasaan. Pada tanggal 30 september 1965 PKI meluncurkan pemberontakan merebut kekuasaan. Gerakan ini dikenal dengan nama gerakan 30 september yang kemudian di sebut G 30 S/PKI. Pemberontakan ini dilakukan pada dini hari tanggal 1 oktober 1965. pemberontakan ini dipimpin oleh Kolonel Untung Sutopo, Komandan Batalyon I Resimen Cakrabirawa ( pasukan pengawal presiden).

Enam orang perwira tinggi dan seorang perwira angkatan dart mnjadi korban pemberontak G 30 S/ PKI. Mereka dibawa ke daerah lubang buaya, Jakarta. Kemudian mereka dibunuh secara kejam. Jenazahnya dimasukkan ke dalam sumur tua. Keenam perwira Tinggi TNI-AD tersebut adalah:

  • Letnan Jendral Ahmad Yani
  • Mayor Jendral R. Soetopo
  • Mayor Jendral M. T Haryono
  • Mayor Jendral S. Parman
  • Brigadier Jendral D. I Panjaitan
  • Brigadier Jendral Soetoyo Siswomiharjo

Seorang perwira tinggi lainnya yaitu Jendral Abdul Haris Nasution yang menjadi sasaran utama berhasil meloloskan diri. Tetapi puteri beliau Ade Irma Suryani Nasution tewas akibat tembakan-tembakan para penculik. Korban lainnya adalah Letnan Sattu Pierre Andreas Tendean dan Brigadir Polisi Karel Satsuit Tubun.

Pada waktu berasamaan PKI mencoba pula mengadakan perebutan kekuasaan di Yogyakarta, Solo, Wonogiri, dan Semarang. Melaluui RRI ( Radio Republik Indonesia), PKI mengumumkan berdirinya Dewan Revolusi di Yogyakarta. Dewan Resolusi di Yogyakarta diketuai oleh Mayor Muljono. Korban lainnya dari kekejaman PKI adalah Kolonel Katamso dan Letnan Kolonel Sugiono. PKI membunuh dua perwira tersebut di dea Kentungan, Yogyakarta.

B. usaha penumpasan G 30 S/ PKI

Ketika pemberontakan G 30 S/ PKI terjadi, Presiden Soekarno selaku Panlima Tertinggi ABRI tidak berada di tempat kediamannya, sedangkan Jendral Ahmad Yani aelaku Panglima Angkatan Darat telah gugur akibat pemberontakan G 30 S/ PKI. Maka Mayor Jendral Soeharto selaku Panglima Kostrad ( Komandan Strategi Angkatan Darat) segera mengambil tindakan. Sebagai langkah awal pada tanggal 1 oktober 1965 Mayor Jendral Soeharto bersama stafnya mengadakan musyawarah di markas Kostrad. Musyawarah teersebut membahas tentang penumpapsan G 30 S/ PKI.

Langkah selanjutnya diadakanlah operasi militer untuk merebut studio RRi dan Kantor Pusat Telekomunikasi di Jakarta yang di kuasai PKI. Pasukan RPKAD di bawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhie Wibowo dapatmerbut kedua tempat tersebut. Setelah itu Mayor Jendral Soeharto lewat pengumuman radio berusaha menyadarkan beberapa keatuan ABRI yang telah diperalat oleh PKI untuk segera kembali bergabung dengan TNI-AD.

Kemudian dilakukanlah pembebasan Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah, yang dapat direbut kembali oleh pasukan RPKAD pada tanggal 2 oktober 1965. pada tanggal 3 oktober 1965 diadakan operasi untuk mengamankan dan membersihkan daerah lubang buaya. Tempat tersebut merupakan pusat kegiatan para anggota PKI. Di tempat inilah ditemukan sebuah lubung sumur tua yaitu tempat para jenazah perwira AD dibuang setelah dibunuh secara kejam.

Keadaan kota Jakarta dapat dikuasai kembali oleh TNI-AD. Dengan demikian usaha perebutan kekuasaan pemerintahan olek G 30 S/ PKI dapat digagalkan. Pemerintah segera memberikan penjelasan tersebut yang berisi tentang: gerakan 30 september adalah gerakan kontra revolusi, dan dewan jendral sebenarnya tidak ada dan itu hanyalah fitnah dari G 30 S/ PKI.

Berkat kerjasama ABRI dan rakyat, maka dalam waktu singkat pemimpin-pemimpin PKI dapat ditangkap. Letnan Kolonel Untung Sutopo dapat ditangkap di tegal. Begitu juga dengan DN. Aidit yang ditangkpa di solo. Pemimpn-pemimpin lainnya seperti Nyoto, sudisman, Sukirman, dan Mayor Mulyono dapat ditangkap dengan cepat. Pemerintah menindak tegas para pelaku pemberontakan G 30 S/ PKI sesuai dengan hokum yang berlaku. Mereka diadili melalui pengadilan militer luar biasa yang disebut MAHMILLUB ( Mahkamah Militer Luar Biasa). Setelah itu dilaksanakan pembekuan PKI beserta organisasi massanya untuk daerah Jakarta dansekitarnya. Disusul dengan penertiban dan pembersihan personalia sipil dan militer dari urusan G 30 S/ PKI.

C. pengorbanan pahlawan revolusi.

Pada saat pemberontakan G30 S/ PKI terjadi, para pahlawan revolusi diberondong dengan tembakan secara kejam. Mereka mengorbankan jiwa raga untuk membela tanah air. Untuk mengenang jasa-jasa mereka dan mengingatkan kepada kita agar selalu waspada terhadap bahaya komunis, maka pemerintah membangun sebuah monument yaitu monument pancasila sakti di daerah lubang buaya, Jakarta, selai itu tanggal 1 oktober di tetapkan sebagai hai kesaktian pancasila.

Pahlawan yang gugur akibat pemberontakan G 30 S/PKI dianugerahkan gelar pahlawan revolusi. Pangkat mereka dinaikkan satu tingkat dengan tambahan Anumerta, yang merupakan gelar pangkat yang di berikan sesudah orangnya meninggal. Jnazah mereka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata pada tanggal 5 oktober 1965. para pahlawan revolusi telah mengorbankan jiwa raga dan harta benda untuk membela bangsa dan Negara, maka dari itu sebagai bangsa yang besar kita harus menghargai jasa para pahlawan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar